Rab. Okt 21st, 2020

Derby, Fakta Keunggulan Strategi Pep atas Mourinho | Game bola

Game bola | Manchester City ke luar sbg jawara dalam laga bertema ‘Derby Manchester’. Anak asuh Pep Guardiola tersebut unggul tipis 1-2 melalui gol Kevin De Bruyne & Kelechi Iheanacho. Sedangkan Manchester United cuma bisa membalas satu gol yg dicetak Zlatan Ibrahimovic.

Derby, Fakta Keunggulan Strategi Pep atas Mourinho | Game bola

Ke-2 manajer jalankan sekian banyak perubahan kepada skuatnya. Sergio Aguero yg terkena hukuman digantikan oleh Iheanacho, penjaga gawang baru Claudio Bravo pun segera diberikan kesempatan debut.

Sedangkan Jose Mourinho menurunkan Jesse Lingard & Henrikh Mkhitaryan utk menukar Juan Mata & Antony Martial di posisi sayap. Perubahan ini kayaknya dilakukan utk mengekspolitasi sayap City sekaligus menggunakan kecepatan utk serangan balik. Tetapi di lapangan faktor ini tidak berhasil dilakukan.

Perubahan Strategi Tak Terduga Guardiola

Derby, Fakta Keunggulan Strategi Pep atas Mourinho | Game bola

Game bola | Seperti yg disebutkan diatas, ada dugaan diturunkannya Mkhitaryan & Lingard yakni utk menekan sayap Man City. Lalu, mengapa Mourinho melaksanakan factor ini, mengubah susunan terbaiknya yg membuahkan empat kemenangan beruntun?

Faktor ini dilakukan lantaran ada kecenderungan tertentu strategi Guardiola di sekian banyak laga terakhir. Kecenderungannya yakni menggeser full-back (bek sayap) ke tengah utk jadi poros ganda. Fernandinho juga sebagai gelandang berkukuh selanjutnya turun maka City bertransformasi jadi tiga bek kala bangun serangan.

Tetapi nyata-nyatanya strategi seperti itu tak dipakai oleh Guardiola. Dirinya telah menyiapkan alternatif taktik lain. Mengapa kami berani bilang dipersiapkan, karena benar-benar dieksekusi dgn baik di lapangan.

City benar-benar tetap bertransformasi jadi tiga bek kala membangun serangan, bek tengah pun masihlah melebar. Cuma saja peran Fernandinho yg turun sudah digantikan oleh Bravo. Sang kiper jadi sosok utama dalam usaha City buat ke luar dari tekanan lini depan MU.

Dikarenakan Fernandinho tak turun sehingga full-back tak butuh lagi utk bergerak ke tengah. Kolarov & Sagna mampu tetap berada di segi arena lapang utk menjaga sayap-sayap MU. Taktik ini pun terbantu berkat tampilan baik John Stones dalam jalankan distribusi bola. Pemain asal Inggris ini terus santai & tak gugup membuang bola bahkan kala ditekan.

Tim tamu semakin santai dalam bermain terutama terhadap babak pertama sebab tekanan yg dilakukan MU amat jelek. Mourinho berkali-kali nampak meminta para pemainnya utk konsisten naik ke depan. Tapi City tetap mampu konsisten ke luar dari tekanan dgn gampang, salah satunya sebab kekuatan Bravo dalam mendistribusikan bola.

Justru bersama naiknya garis pertahanan MU yg dibarengi bersama pressing yg jelek, ini mengambil petaka. De Bruyne sukses memakai kesalahan Blind dalam antisipasi sundulan Iheanacho dari tengah arena lapang. Kolarov sendiri dgn bebas mengirimkan umpan jauh padahal selayaknya Mkhitaryan melaksanakan pressing. Gol pertama setelah itu tercipta & menciptakan tuan rumah tertekan maka jadi terburu-buru dalam menyerang.

Yg tersaji pada babak pertama, City dgn mudahnya ke luar dari tekanan yg dilancarkan lini depan MU. Pressing tuan rumah yg belum maksimal inilah yg mengakses jalan bagi lini tengah City dalam berkreasi.

Padahal kalau menyaksikan menit-menit awal, Mourinho kelihatannya menyiapkan timnya ini buat menunggu, baru jalankan serangan balik. Bek MU uga mengalami dilema dikarenakan di depan City senantiasa bersiaga tiga pemain yg punyai kecepatan. Iheanacho, Sterling, & Nolito siap menerima umpan terobosan. Belum lagi waspada munculnya pemain dari lini ke-2 seperti Silva & De Bruyne.

Iheanacho pun menjalankan perannya dgn baik juga sebagai false nine menukar Aguero. Pergerakannya memudahkan lini tengah City dalam ke luar dari tekanan yg dilakukan MU di lokasi tengah. Silva & De Bruyne terlihat leluasa menguasai lini tengah sebab pergerakan Iheanacho yg mengganggu konsentrasi penjagaan pemain yg mesti dilakukan Paul Pogba & Marouane Fellaini.

Saling Respons Taktik Babak Kedua

Derby, Fakta Keunggulan Strategi Pep atas Mourinho | Game bola

Mourinho langsung melakukan perubahan taktik pada babak kedua. Setelah turun minum ia langsung mengganti dua pemainnya sekaligus. Lingard dan Mkhitaryan ditarik keluar dan digantikan oleh Rashford dan Ander Herrera. Pergantian ini membuat MU bermain dengan pola 4-3-3 pada babak kedua.Ibrahimovic di depan diapit oleh Rashford di kiri dan Rooney di kanan. Pogba dan Herrera menyokong di belakangnya,yang membuat MU tampil dengan formasi menyerang. Lalu apakah dengan formasi ini mereka berhasil?

Jika jawabannya adalah skor akhir, tentu tidak. Namun dari segi permainan jelas ada peningkatan yang ditunjukkan oleh “Setan Merah” di babak kedua.

Tiga penyerang di depan membuat tekanan ke lini belakang City lebih baik. Bravo juga dipaksa untuk melakukan umpan-umpan panjang ketimbang membagi bola ke bek di dekatnya. Akibatnya, kendali permainan mulai bisa dikuasai dan suplai bola City ke depan berkurang. Jika babak pertama tuan rumah hanya punya 34% penguasaan bola di babak kedua meningkat menjadi 45%.

Guardiola sepertinya sadar akan hal ini. Iheanacho yang mulai minim kontribusi karena tak ada suplai kemudian ditarik. Ia kemudian memilih memperkuat lini tengah dengan memasukkan Fernando. City bermain tanpa striker, sebagai gantinya De Bruyne diberikan kebebasan termasuk mengisi kotak penalti MU.

Kondisi tersebut membuat City semakin kesulitan menciptakan peluang karena berkurangnya pemain di depan. Tapi siapa yang peduli karena timnya sudah dalam kondisi unggul. Usaha mempertahankan keunggulan ini justru semakin baik karena mereka kini punya dua gelandang yang fasih dalam bertahan.

Fenandinho dan Fernando sendiri amat jarang jadi rekan duet sebelumnya karena keduanya bertipikal sama, yakni bertahan. Biasanya salah satu dipilih untuk diduetkan dengan gelandang lain yang bisa membantu serangan seperti Yaya Toure.

Lagi-lagi saling respons taktik dilakukan, kali ini tentu oleh Mourinho. Mungkin di benaknya adalah berusaha cetak gol sebisa mungkin, sekarang atau tidak sama sekali. Secara mengejutkan ia menarik keluar Luke Shaw dan menggantinya dengan Martial. MU bermain dengan hanya tiga bek dan ada empat pemain bertipe penyerang di lapangan.

Di sinilah kecerdikan Guardiola terbukti. Walaupun MU punya empat penyerang sekaligus dan timnya bermain tanpa striker, lawan masih tetap gagal membobol gawang Bravo. Hal ini karena meski bertahan garis pertahanan City tetap tinggi. Sederhananya, empat penyerang tadi menjadi tidak berguna karena posisinya jauh dari gawang.

Akhirnya yang bisa dilakukan oleh MU adalah melakukan umpan-umpan jauh, menghujani kotak penalti City melalui bola-bola atas – dan hal itu mudah diantisipasi. Bahkan menjelang akhir pertandingan Guardiola memasukkan Zabaleta menggantikan De Bruyne.

Selain untuk mengulur-ulur waktu, dimasukkan bek membuat City semakin kokoh di belakang. Alhasil serangan MU tak lagi efektif karena bisa dihalau dengan mudah.

Kesimpulan

Guardiola menang dalam pertarungan melawan Mourinho. Selain dilihat dari skor pertandingan duel taktik yang terjadi di lapangan juga menunjukkan Pep masih superior. Bravo, terlepas dari blunder-blunder yang ia lakukan, berhasil mendistribusikan bola dengan baik, di mana ini menjadi skema terpenting Guardiola untuk keluar dari tekanan.

Pressing MU pun belum bisa dijalankan dengan baik oleh sejumlah pemain, khususnya Mkhitaryan dan Lingard. Karenanya tak heran kedua pemain dengan cepat diganti ketika tak bisa memerankan perannya dalam pressing dengan baik.

Dengan kemenangan di Derby Manchester ini, Pep delapan kali mengalahkan Mourinho dari total 17 pertemuan. Mourinho sendiri baru bisa menang sebanyak tiga kali.

Sebelum pertandingan, perencanaan taktik Pep juga terbukti masih unggul. Hal ini dibuktikan dengan langkah Mourinho yang langsung menarik dua pemainnya setelah turun minum. Padahal dua pemain tersebut adalah bagian dari rencana “kejutannya” karena tak bermain di posisi inti di laga-laga sebelumnya.

Begitu juga soal respons di lapangan sepanjang pertandingan. Terlihat bahwa apa yang dilakukan oleh Mourinho adalah bagian dari menanggapi taktik dari Pep Guardiola. Dengan kata lain, Pep selalu berada satu langkah lebih maju dari Mourinho.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *